MAKALAH VAKSIN

MAKALAH VAKSIN

PENYUSUN  :
1.      FATIKATUS JULVA
2.      MEITA LESTARI LATIFIANI
3.      NASTITI RENANINGTYAS
4.      SELA AMELIA
5.      SELVIANA PRASENO PUTRI
6.      SEPTI HANDAYANI
7.      SILVIA PUTRI HANDAYANI
8.      RISMA DEWI S.
9.      SINTYA NURFADILA
10.  ULFATUN NIKMAH
KELAS :        XI FARMASI 1



SMK ASTA MITRA PURWODADI
TAHUN AJARAN 2016/2017


KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “VAKSIN”.
            Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan             makalah           ini.
   
            Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah         ini.
   
            Akhir kata kami berharap semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya siswa kesehatan.




Purwodadi, 4 November 2016

(Penyusun)










DAFTAR ISI
1.      Halaman Judul..................................................................................
2.      Kata Pengantar..................................................................................
3.      Daftar Isi...........................................................................................
4.      BAB 1 (Pendahuluan).......................................................................
5.      BAB 2(Pembahasan)..........................................................................
6.      BAB 3(Penutup)................................................................................
7.      Daftar Pustaka...................................................................................


























BAB 1
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas dari guru biologi yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai bioteknologi dengan materi yang lebih dikhususkan lagi yaitu mengenai “Vaksin”. Sehubungan dengan makalah ini, deskripsi mengenai segala sesuatu yang dapat berhubungan dengan vaksin dapat kami paparkan secara ringkas dalam latar belakang makalah ini.
Istilah '' vaksin '' berasal dari Edward Jenner 1796. Penggunaan istilah Vaksin berasal dari bahasa latinvacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau “liar”.
Vaksin cacar tidak dapat dipisahkan dari Edward Jenner (1749-1823).Jenner menyusun tulisan ilmiahnya tentang kekebalan terhadap cacar pada manusia yang pernah tertular cacar sapi.Ia juga melakukan survei nasional yang mendukung teorinya. Sesudah penemuan Jenner diuji coba dan dikonfirmasi banyak ilmuwan vaksinasi cacar mulai meluas di London untuk kemudian menyebar di Inggris, seluruh Eropa, dan dunia.
Pasteur (1885) memperkenalkan cara penanggulangan penyakit akibat gigitan tersangka rabies dengan menggunakan cara vaksinasi menggunakan vaksin anti rabies (VAR).
Dalam hal penyakit, lebih bijaksana untuk mencegah daripada mengobati. Salah satu caranya adalah dengan memberikan vaksinasi. Vaksinasi sangat membantu untuk mencegah penyakit-penyakit infeksi yang menular baik karena virus atau bakteri, misalnya polio, campak, difteri, pertusis (batuk rejan), rubella (campak Jerman), meningitis, tetanus, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), hepatitis, dll. Vaksin memanfaatkan kemampuan alami tubuh untuk belajar bagaimana untuk menghilangkan hampir semua penyebab penyakit kuman, atau mikroba, yang menyerang tubuhdan  untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. Tubuh manusia yang terinfeksi akan “mempelajari” bagaimana merespon terhadap virus tertentu di masa depan, sehingga infeksi tunggal, terutama dari virus yang relatif jinak, biasanya mengajarkan tubuh bagaimana cara untuk merespon invasi tambahan dari virus yang sama.
Seperti halnya obat, tidak ada vaksin yang bebas dari risiko efek samping. Namun keputusan untuk tidak memberi vaksin juga lebih berisiko untuk terjadinya penyakit atau lebih jauh menularkan penyakit pada orang lain.

B.                 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini adalah:
v    Bagaimanakah sejarah vaksin?
v    Apa yang dimaksud dengan vaksin menurut para ahli?
v    Bagaimana proses pembuatan vaksin?
v    Vaksin apa yang diberikan manusia?
v    Apakah manfaat vaksin?
v    Apakah efek samping vaksin?

C.    Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah:
v   Mengetahui sejarah vaksin
v   Mengetahui definisi vaksin
v   Mengetahui proses pembuatan vaksin
v   Mengetahui macam-macam vaksin
v   Mengetahui manfaat vaksin
v   Mengetahui efek samping vaksin













BAB 2
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Vaksin
Vaksin menerobos dunia modern pertama kali pada tahun 1796, ketika Edward Jenner, seorang  dokter dari Inggris, meneliti  seorang pekerja harian yang terkena penyakit cacar, dengan  diimunisasi dengan cacar sapi ringan.   Dia mengambil beberapa cairan dari luka penderita cacar sapi dan menggoreskan  di permukaan lengan anak berusia 8 tahun. Empat pulah delapan (48) hari kemudian Jenner memberi nama “vaksin” (bahasa latin dari Sapi).
Terobosan baru lainnya datang pada akhir abad 19, ketika Louis Pasteur seorang ahli kimia dari Perancis, mengembangkan tehnik kimia untuk mengisolasi virus dan  melemahkannya,  yang efeknya dapat dipakai sebagai vaksin. Sebelum vaksinasi memancing kontroversi. Pasteur pertama kali mencatat, memasukkan vaksin rabies ke tubuh manusia  yang mendapat protes keras oleh ahli jiwa dan masyarakat.
Upaya untuk menggalakkan imunisasi  di Inggris  yang menurun pada abad  tersebut  merupakan  kenyataan pahit akibat dari penentangan/protes terhadap imunisasi. Meskipun Inggris menghadapi  resiko serius  terhadap penyakit Tipus yang mewabah di medan perang Boer (Afrika Selatan).
Pada perubahan jaman ini,   peneliti lainnya telah mengembangkan vaksin yang tidak aktif untuk melawan Tipus, wabah Rabies dan Kolera. Pada pertengahan tahun 1920-an,  vaksin telah dikembangkan untuk melawan  Dipteri (penyakit yang sering menyebabakan kematian pada anak-anak) dan Pertusis.
Dua tim ahli dipimpin oleh Jonas Salk and Albert Sabin mengembangkan vaksin Polio. Vaksin untuk mencegah Polio, digunakan untuk membunuh virus, dipatenkan pada tahun 1954 dan digunakan untuk kampanye imunisasi. Kurang dari enam tahun, kasus Polio menurun 90%. Tetapi vaksin Salk tidak melengkapi  imunisasi secara menyeluruh untuk semua jenis virus Polio. Pada tahun 1961, Sabin telah mengembangkan vaksin oral yang bekerja secara aktif (hidup)  berupa  virus yang telah dilemahkan, untuk menggantikan imunisasi dengan suntik jenis Salk di Amerika Serikat. Pada tahun 1960-an,  vaksin digunakan secara rutin dan tidak menyebabkan kontroversi  pada masyarakat dan paramedis, dan vaksin virus aktif (hidup) telah dikembangkan untuk Campak (1963), Rubella/ campak Jerman (1966) dan penyakit Gondong (1968).
Bahaya Serangan DPT (Mary H. Cooper, 1995).
Pada awal tahun 1980-an,  wabah infeksi yang membunuh ratusan anak-anak tiap tahun telah  mencemaskan orang tua.  Sebagian kecil orang tua merasa anaknya menderita akibat vaksin yang  diberikan tidak aman bagi anak mereka terutama DPT.  Di antara mereka adalah anggota National Vaccine Information Center (NVIC)
Pada tahun 1982. Fisher dan  para ibu menemukan   kelompok pembela yang tergabung dalam NVIC  dan  meyakinkan konggres untuk menyediakan vaksin DPT yang aman.
Pada tahun 1991, Fisher mendokumentasikan perkembangan vaksin DPT dalam “A Shot in the Dark”  (menyerang dalam kegelapan),  dan menerangkan bagaimana lebih banyak racun pertusis  menyebabkan banyak masalah, dan mengapa  diamankan dan tidak dipasarkan secara luas di Amerika Serikat.
Tidak tahu secara pasti mengapa pemerintah Amerika Serikat menarik vaksin  DPT dari pasaran pada tahun 1996 dan merekomendasikan dokter  menutup vaksin jenis DTaP. Hanya 6-7 persen dari vaksin pertusis  di Amerika Serikat masih  mengandung   DPT. Tetapi itu telah digunakan secara luas di masyarakat dunia ketiga (negara berkembang).
Pada masa pemerintahan Clinton telah diijinkan untuk memperpanjang program vaksinasi untuk masyarakat miskin  dan merekomendasikan ijin baru untuk memperbaiki tingkat vaksinasi. Sejak tahun 1994, program vaksinasi telah dijalankan dalam pemerintahan untuk anak-anak miskin secara Cuma-Cuma.

B.     Pengertian Vaksin
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar".
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Edward Jenner menyadari bahwa mereka yang telah terinfeksi oleh cacar sapi (cowpox) sebelumnya, maka tidak akan terkena smallpox (Variola vera). Pada tahun 1796, Edward Jenner menggunakan sapi yang diinfeksi dengan cacar sapi (variolae vaccinae) untuk membuat vaksin yang melindungi masyarakat dari smallpox. Ia menginokulasi seorang anak dengan cowpox dan kemudian menginfeksinya dengan smallpox. Anak tersebut tetap sehat, karena telah terkena cowpox sebelumnya. Inokulasi cowpox menyebabkan yang sakit lebih sedikit daripada inokulasi smallpox.
Sekarang ini telah terdapat berbagai macam vaksin untuk bermacam-macam penyakit, walaupun demikian vaksin belum ada untuk beberapa penyakit penting, seperti vaksin untuk malaria, HIV  atau demam berdarah.
C.    Proses Pembuatan Vaksin
Tahap produksi vaksin
Cara produksi vaksin bukanlah seperti cara membuat obat racikan, namun proses pembuatannya sangat rumit sehingga untuk 1 jenis vaksin baru, dibutuhkan pembuatan hingga pengujian selama 10 – 20 tahun. Produksi vaksin memiliki beberapa tahap. Proses pembuatan vaksin memiliki langkah-langkah berikut:
Menghasilkan antigen dari Kuman
Produksi awal melibatkan pembentukan antigen dari mikroba. Untuk ini virus atau mikroba tumbuh baik pada sel-sel dasar seperti telur ayam (misalnya vaksin influenza). Antigen juga bisa merupakan racun atau toxoid dari organisme (misalnya difteri atau tetanus) atau mungkin berupa bagian potongan tubuh kuman. Selain itu antigen juga bisa jad berupa protein atau bagian dari organisme yang dibiakkan dengan media jamur, bakteri lain atau sel budidaya. Bakteri atau virus dibuat lemah dengan menggunakan bahan kimia atau panas untuk membuat vaksin (misalnya vaksin polio).
Isolasi antigen
Isolasi bertujuan untuk menghilangkan komponen yang tidak diinginkan dari hasil kultur. Pemurnian / pencucian bertujuan untuk mempertahankan komponen yang diinginkan secara selektif sesuai dengan spesifikasi tertinggi, sekaligus secara selektif membuang komponen yang tidak diperlukan. Umumnya purifikasi ini dilakukan setelah proses fermentasi.
Beberapa metode yang digunakan pada purifikasiadalah sentrifugasi, kromatografi dan filtrasi. Filtrasi dilakukan dengan memberikan tekanan tertentu agar larutan yang ingin dimurnikan masuk melalui membran penyaringan, “dicuci” hingga jutaan kali (seperti pada beberapa vaksin yang bersinggungan dengan enzim tripsin babi), sehingga pada akhirnya yang tersisa hanyalah komponen yang diinginkan.
Penambahan Bahan Dasar Vaksin
Setelah antigen dibentuk, vaksin diformulasikan dengan menambahkan ajuvan, stabilisator dan pengawet :
1.      Adjuvan : berfungsi untuk memperkuat respons imun
2.      Stabilizer : berfungsi untuk menstabilkan vaksin, misalnya dalam suhu ekstrim
3.      Aditif/ Preservatif / Pengawet : berfungsi sebagai antimikroba, khususnya pada vaksin kemasan multidosis.
Adalah hal yang sulit untuk membuat vaksin vaksin kombinasi karena kemungkinan tidak kompatibel dan interaksi antara antigen dan bahan-bahan lain dari vaksin, oleh karena itu harga vaksin kombinasi lebih mahal daripada harga vaksin tunggal.
Persyaratan-persyaratan produksi vaksin
Setiap tahap dari produksi vaksin wajib mengikuti kaidah GMP (Good Manufacturing Practice) dan diawasi ketat oleh lembaga yang berwenang. WHO (Badan Kesehatan Dunia) telah mengeluarkan peraturan ini sehingga vaksin yang diproduksi oleh perusahaan manapun di setiap belahan negar akan memiliki kualitas yang sama. Produk perlu dilindungi dari udara, air dan kontaminasi manusia. Lingkungan perlu dilindungi dari tumpahan antigen.
Proses kendali mutu vaksin dilakukan dengan sangat ketat, konsisten dan berkala. Secara acak dipilih vaksin yang akan diperiksa kualitasnya. Indikator yang diperiksa adalah sterilitas, stabilitas kimiawi, keamanan/ toksisitas, virulensi, bahkan hingga pengaruhnya kepada lingkungan sekitar.
Salah satu hal penting lainnya adalah pelaksanaan uji lot / batch release. Pada setiap rangkaian produk vaksin dalam suatu waktu tertentu, dilakukan penandaan berupa kode tertentu misalnya lot/ batch number untuk memastikan konsistensi kemurniaan, potensi dan keamanan vaksin yang diproduksi pada waktu berlainan tetaplah sama dan tidak terjadi penyimpangan.
D.    Vaksin yang Diberikan Pada Manusia
Di Indonesia, vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP dan campak merupakan imunisasi wajib. Sedangkan sisanya merupakan vaksinasi yang direkomendasikan. Berikut ini adalah jenis-jenis vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam program imunisasi, di antaranya:
1.      Hepatitis B
Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan oleh virus melalui cairan tubuh dan darah. Pemberian vaksin hepatitis B bisa dilakukan pertama kali pada anak setelah kelahirannya. Selanjutnya vaksin ini bisa kembali diberikan pada saat anak berusia satu bulan dan pemberian ketiga di kisaran usia 3-6 bulan.
Efek samping vaksin hepatitis B yang tergolong umum adalah demam dan rasa lelah pada anak. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit menjadi kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.
2.      Polio
Polio merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, sesak napas, dan terkadang kematian. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu rangkaian, yaitu pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua, empat, serta enam bulan. Vaksin ini selanjutnya bisa diberikan kembali di usia satu setengah tahun, dan yang terakhir di usia lima tahun.
Efek samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu makan, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi berupa gatal, kulit kemerahan, wajah membengkak hingga susah bernapas atau menelan.
3.      BCG
Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis  atau yang lebih dikenal sebagai TBC. Penyakit ini merupakan penyakit serius yang dapat ditularkan melalui hubungan dekat dengan orang yang terinfeksi TB, seperti hidup di rumah yang sama.
Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat anak baru dilahirkan hingga berusia dua bulan. Efek samping vaksin BCG yang paling umum adalah munculnya benjolan bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.
4.      DTP
Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan.
Difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas, radang paru-paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus merupakan penyakit kejang dan kaku otot yang sama mematikannya. Dan yang terakhir adalah batuk rejan atau pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang dapat mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri, batuk rejan juga dapat menyebabkan radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian.
Pemberian vaksin DTP harus dilakukan lima kali, yaitu pada saat anak berusia:
Dua bulan
Empat bulan
Enam bulan
Satu setengah tahun
Lima tahun
Vaksin DTP tidak dilisensikan untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, remaja, atau dewasa. Namun vaksin sejenis yang disebut Tdap bisa diberikan pada usia 12 tahun. Efek samping vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam, dan mual. Efek samping yang jarang terjadi adalah kejang-kejang.


5.      Campak
Campak adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, radang mata, dan ruam. Vaksin campak diberikan tiga kali yaitu pada saat anak berusia sembilan bulan, dua tahun, dan enam tahun.
6.      MMR
Selain vaksin campak biasa, ada pilihan alternatif yaitu vaksin MMR yang merupakan vaksin kombinasi. Vaksin ini merupakan gabungan antara vaksin campak, gondong, dan campak Jerman.
Gondong merupakan penyakit virus yang menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar parotis di bawah telinga. Gejala lain dari gondong adalah demam, nyeri sendi, dan sakit kepala. Campak Jerman merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan nyeri sendi, pilek, demam, pembengkakan kelenjar di sekitar kepala dan leher, serta munculnya ruam berwarna merah pada kulit.
Pemberian vaksin MMR dilakukan dua kali, yaitu saat anak berusia satu tahun tiga bulan dan saat anak berusia 15-18 bulan dengan minimal jarak 6 bulan dengan pemberian vaksin campak. Pemberian kedua diberikan saat anak berusia 6 tahun. Sebagai patokan, imunisasi campak diberikan dua kali atau MMR dua kali.
Efek samping vaksin MMR yang paling umum adalah demam dan efek samping yang jarang terjadi adalah sakit kepala, ruam berwarna ungu pada kulit, muntah, nyeri pada tangan atau kaki, dan leher kaku.
Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah isu autisme akibat pemberian vaksin MMR. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Hingga kini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.
7.      Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi mematikan yang disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe B. Beberapa kondisi parah yang dapat disebabkan virus Hib adalah meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru-paru), septic arthritis (radang sendi), dan pericarditis (radang kantong jantung).
Pemberian vaksin Hib harus dilakukan empat kali, yaitu saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, dan 18 bulan. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin Hib adalah reaksi alergi berupa kemerahan dan gatal.
8.      Pneumokokus
Vaksin pneumokokus (PCV) diberikan untuk mencegah penyakit pneumonia, meningitis, dan septikemia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.
Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua, empat, dan enam bulan. Selanjutnya pemberian vaksin dapat kembali dilakukan saat anak berusia 12-15 bulan.
Efek samping vaksin PCV yang bisa terjadi adalah pembengkakan dan warna kemerahan pada bagian yang disuntik, serta diikuti dengan demam ringan.
9.      Rotavirus
Vaksin rotavirus merupakan jenis vaksin untuk mencegah diare. Pemberian vaksin ini dilakukan secara berangkai, yaitu pada saat anak berumur 10 minggu dan 6 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Efek samping vaksin rotavirus yang paling umum diare ringan. Efek pada bayi dapat menyebabkannya menjadi lebih rewel.
10.  Varisela
Vaksin varisela merupakan vaksin untuk mencegah penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Vaksin ini diberikan pada anak berusia satu tahun ke atas. Vaksin diberikan dua kali jika anak berusia di atas 13 tahun dengan jarak waktu 4-8 minggu.
Efek samping pemberian vaksin varisela yang tergolong umum adalah kemerahan dan nyeri pada bagian yang disuntik. Dan efek samping yang tergolong lebih jarang adalah ruam kulit.
11.  HPV
Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker serviks atau kanker pada leher rahim yang sebagian besar kasusnya disebabkan oleh virus Human papilloma virus.  Vaksin HPV dapat diberikan sejak anak berumur 10 hingga 26 tahun. Efek samping pemberian vaksin HPV yang tergolong umum adalah:
Sakit kepala
Nyeri, bengkak, gatal, memar, dan merah pada bagian kulit yang disuntik
Demam
Nyeri tangan dan kaki
Mual
Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah urtikaria atau biduran.
12.  Hepatitis A
Vaksin hepatitis A diperuntukkan mencegah penyakit hepatitis A yang disebabkan oleh virus. Vaksin ini harus diberikan dua kali mulai usia 2 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 12 bulan.
Efek samping vaksin hepatitis A yang umum adalah demam dan rasa lelah, sedangkan efek samping yang tergolong jarang adalah gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
13.  Tifus
Vaksin tifus diberikan untuk mencegah penyakit tifus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Gejala penyakit ini meliputi demam, diare, dan sakit kepala.Jika tidak segera ditangani, gejala tersebut bisa memburuk, dan menyebabkan berbagai komplikasi, seperti infeksi usus dan perforasi (robek) usus.
Pemberian vaksin tifus bisa dilakukan pada saat anak berusia 2 tahun dengan frekuensi pengulangan tiap tiga tahun sekali. Efek samping pemberian vaksin tifus yang mungkin saja terjadi adalah:
Nyeri, bengkak, dan merah pada bagian yang disuntik
Demam
Sakit kepala
Tidak enak badan
Sakit perut
Diare

Vaksinasi dewasa

Selain jadwal vaksinasi anak ada juga jadwal vaksinasi dewasa yang direkomendasikan oleh PAPDI (Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia). Terdapat dua tabel:
Di Jepang Vaksinasi Dewasa sudah umum dilakukan, di Amerika Serikat umumnya juga direkomendasikan seperti di Indonesia, di beberapa negara Eropa ada Vaksinasi Dewasa yang gratis dan ada pula yang menjadi kewajiban dengan sanksi tertentu, jika tidak melakukannya.

Vaksinasi lansia

Vaksinasi/imunisasi pada lansia/manula perlu dilakukan, mengingat lansia kekebalan tubuhnya telah menurun dan hal ini dapat diperparah dengan adanya kurang gizi yang bisa disebabkan kurangnya asupan gizi atau tingkat penyerapan gizi oleh tubuh yang sudah menurun.
Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa, pertumbuhan lansia di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia dan pada tahun 2020 diperkirakan terdapat 25,5 juta lansia.
Pada tahun 2005 telah ada Konsensus Nasional Imunisasi untuk Usia Lanjut bagi mereka yang berumur mulai dari 60 tahun ke atas, karena jika lansia terkena penyakit infeksi, maka penyembuhannya akan sulit, apalagi banyak kuman yang sudah resisten terhadap antibiotik yang umum dan kondisi tubuhnya telah lemah.
Vaksinasi yang dianjurkan adalah:
Vaksinasi Influenza, sebaiknya diberikan pada komunitas di panti werdha maupun yang memiliki penyakit kronis, misalnya diabetes. Vaksinasi ini perlu diulang tiap tahun
Vaksinasi Pneumonia, sebaiknya diberikan pada komunitas di panti werdha dan bagi mereka yang pernah divaksinasi sebelum usia 60 tahun perlu dilakukan vaksinasi ulang/kembali, demikian juga yang mengalami penurunan kekebalan tubuh karena diabetes, gagal ginjal kronik, dan penyakit hati kronik.
E.     Tujuan imunisasi
Tujuan imunisasi adalah merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.

F.     Manfaat Vaksin
Berikut ini beberapa manfaat vaksin bagi tubuh, diantaranya adalah:
v  Dapat Menyelamatkan Hidup Anak-anak
Dengan adanya kemajuan di bidang ilmu kedokteran, dapat memberikan dampak yang positif bagi anak-anak kita, dimana mereka dapat terlindung dari berbagai jenis penyakityang bisa menyerang mereka kapan saja. Kita tahu bahwa usia kana-kanak merupakan usia yang rentan terhadap serangan berbagai macam penyakit, karena diusia tersebut mereka belum memiliki sistem kekebalan tubuh sekuat orang-orang dewasa.
Namun dengan kemajuan ilmu di bidang kedokteran tersebut, beberapa penyakit yang dapat membuat mereka cidera atau bahkan dapat mengakibatkan kematian pada usia anak-anak dapat dikurangi prosentasenya, yaitu dengan jalan memberikan mereka vaksin yang bekerja dengan aman dan efektif di dalam tubuh.  Salah satu contoh kasus yang pernah terjadi adalah wabah polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian ya bagi penderita di tiap harinya. Kasus tersebut terjadi hampir diseluruh negara-negara di dunia ini. Dengan pemberian vaksin polio, laporan tentang akibat penyakit tersebut menurun dengan drastis.
v  Vaksin Sangat Aman dan Juga Efektif
Pemberian vaksin pada anak-anak akan dapat menimbulkan ketidaknyaman bagi mereka, seperti dengan timbulnya rasa nyeri baik itu di bagian yang terkena suntikan vaksin maupun anggota tubuh yang lain, serta juga dapat menimbulkan ruam pada kulit yang terkena suntikan. Namun tentu saja hal itu hanya berlangsung untuk sementara waktu saja.
Kasus timbulnya alergi pasca pemberian vaksin sangat jarang terjadi.  Hal tersebut tentu saja tak sebanding dengan apabila mereka merasakan sakit akibat serangan suatu penyakit berbahaya dan mematikan.  Manfaat pencegahan dengan mendapatkan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin dirasakan oleh anak-anak tersebut.
v  Vaksin Dapat Membantu Mencegah Penularan Suatu Penyakit pada Orang Lain.
Beberapa tahun yang lalu banyak sekali kita dengar mengenai kasus kematian pada bayi dan anak-anak yang diakibatkan  oleh serangan penyakit campak maupun pertusis (batuk rejan). Hal tersebut kebanyakan terjadi pada bayi maupun anak-anak yang belum sempat mendapatkan vaksin. Hal tersebut mungkin saja dikarenakan oleh beberapa kondisi seperti terjadinya alergi yang cukup parah, sistem kekebalan tubuh yang lemah, karena kondisi kesehatan seperti leukemia, maupun karena adanya alasan lain.
Untuk itu, bagi bayi maupun anak-anak yang berpotensi untuk mendapatkan vaksin, sebaiknya mereka mendapatkan vaksinasi, yaitu melalui  prosedur imunisasi lengkap. Hal ini tidak hanya melindungi mereka, tetapi juga dapat membantu mencegah penyebaran penyakit pada mereka sendiri maupun pada orang lain.
v  Dapat Menghemat Waktu dan Biaya
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan pemberian vaksin dapat membantu anak-anak terhindar dari berbagai macam penyakit yang dapat menyebabkan cacat yang berkepanjangan, dimana hal tersebut tentu saja akan merugikan baik dari segi waktu maupun dari segi materi hanya untuk melakukan tindakan perawatan dan pengobatan yang bisa terjadi dalam kurun waktu yang panjang.
Dengan memberikan vaksin pencehan penyakit sejak dini pada anak-anak, merupakan suatu investasi yang menguntungkan bagi kita, dimana  pemborosan terhadap waktu dan materi dapat lebih diminimalkan. Pemberian vaksin merupakan suatu program pemerintah, dimana hal tersebut bisa didapatkan dengan gratis tanpa biaya apapun. Selain itu dampak yang bisa dirasakan adalah anak-anak dapat terhindar dari seangan berbagai penyakit berbahaya nantinya.
v  Dapat Melindungi Generasi Berikutnya.
Dengan pemberian vaksin telah terbukti dapat menurunkan resiko terhadap berbagai jenis penyakit yang dapat berdampak pada kematian maupun cacat yang berkepanjangan bagi anak-anak generasi masa depan. Beberapa contoh diantaranya adalah pemberian vaksinasi cacar pada usia anak-anak dapat membantu menyelamatkan mereka dari serangan cacar di masa depan.
Contoh lainnya adalah pemberian vaksin campak, dapat membantu menurunkan resiko penularan virus tersebut dari seorang wanita hamil kepada janin yang dikandungnya maupun bagi bayi yang baru lahir  secara drastis. Untuk itu sangat penting bagi bayi atau anak-anak untuk dapat segera mendapatkan vaksinasi  secara lengkap dan benar guna pencegahan terserangnya berbagai jenis penyakit berbahaya di masa depan.

G.    Efek Samping Vaksin
Umumnya efek samping imunisasi tergolong ringan, misalnya:
·         Nyeri atau bekas berwarna kemerahan di bagian yang disuntik
·         Demam
·         Mual
·         Pusing
·         Hilang nafsu makan
·         Untuk efek samping yang tergolong parah (misalnya kejang dan reaksi alergi), jarang sekali terjadi.



BAB 3
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar". Macam-macam vaksin antara lain:
a.       Vaksin Hepatitis B
b.      Vaksin Polio
c.       Vaksin BCG
d.      Vaksin DTP
e.       Vaksin Campak
f.       Vaksin MMR
g.      Vaksin Hib
h.      Vaksin Pneumokokus
i.        Vaksin Rotavirus
j.        Varisela
k.      Vaksin HPV
B.     Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran. Apabila ada kekurangan dalam penyelesaian makalah ini kami mohon kritik dan saran agar makalah ini dapat bermanfaat
















DAFTAR PUSTAKA


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIOGRAFI B.F SKINNER TOKOH PSIKOLOGI BEHAVIORISME

Apa Itu Pola Asuh? Yuk Mengenal 3 Jenis Pola Asuh

Membangun Jiwa Kepedulian Sosial di Era Globalisasi Tugas Psikologi Sosial