MAKALAH VAKSIN
MAKALAH VAKSIN
PENYUSUN :
1.
FATIKATUS
JULVA
2.
MEITA
LESTARI LATIFIANI
3.
NASTITI
RENANINGTYAS
4.
SELA
AMELIA
5.
SELVIANA
PRASENO PUTRI
6.
SEPTI
HANDAYANI
7.
SILVIA
PUTRI HANDAYANI
8.
RISMA
DEWI S.
9.
SINTYA
NURFADILA
10. ULFATUN NIKMAH
KELAS
: XI FARMASI 1
SMK
ASTA MITRA PURWODADI
TAHUN
AJARAN 2016/2017
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang “VAKSIN”.
Makalah ini telah kami susun
dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya siswa kesehatan.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya siswa kesehatan.
Purwodadi,
4 November 2016
(Penyusun)
DAFTAR
ISI
1. Halaman
Judul..................................................................................
2. Kata
Pengantar..................................................................................
3. Daftar
Isi...........................................................................................
4. BAB
1
(Pendahuluan).......................................................................
5. BAB
2(Pembahasan)..........................................................................
6. BAB
3(Penutup)................................................................................
7. Daftar
Pustaka...................................................................................
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Makalah ini kami susun untuk
memenuhi tugas dari guru biologi yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan
mengenai bioteknologi dengan materi yang lebih dikhususkan lagi yaitu mengenai
“Vaksin”. Sehubungan dengan makalah ini, deskripsi mengenai segala sesuatu yang
dapat berhubungan dengan vaksin dapat kami paparkan secara ringkas dalam latar
belakang makalah ini.
Istilah ''
vaksin '' berasal dari Edward Jenner 1796. Penggunaan istilah Vaksin berasal dari bahasa latinvacca
(sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan
kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi
pengaruh infeksi oleh organisme alami atau “liar”.
Vaksin cacar
tidak dapat dipisahkan dari Edward
Jenner (1749-1823).Jenner menyusun tulisan ilmiahnya tentang kekebalan
terhadap cacar pada manusia yang pernah tertular cacar sapi.Ia juga melakukan
survei nasional yang mendukung teorinya. Sesudah penemuan Jenner diuji coba dan
dikonfirmasi banyak ilmuwan vaksinasi cacar mulai meluas di London untuk
kemudian menyebar di Inggris, seluruh Eropa, dan dunia.
Pasteur (1885) memperkenalkan cara penanggulangan penyakit akibat gigitan
tersangka rabies dengan menggunakan cara vaksinasi menggunakan vaksin anti
rabies (VAR).
Dalam hal
penyakit, lebih bijaksana untuk mencegah daripada mengobati. Salah satu caranya
adalah dengan memberikan vaksinasi. Vaksinasi sangat membantu untuk mencegah penyakit-penyakit infeksi yang menular
baik karena virus atau bakteri, misalnya polio, campak, difteri, pertusis (batuk rejan), rubella (campak
Jerman), meningitis, tetanus, Haemophilus influenzae tipe b (Hib),
hepatitis, dll. Vaksin memanfaatkan kemampuan alami tubuh untuk belajar
bagaimana untuk menghilangkan hampir semua penyebab penyakit kuman, atau
mikroba, yang menyerang tubuhdan untuk
merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga
dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. Tubuh manusia yang terinfeksi
akan “mempelajari” bagaimana merespon terhadap virus tertentu di masa depan,
sehingga infeksi tunggal, terutama dari virus yang relatif jinak, biasanya
mengajarkan tubuh bagaimana cara untuk merespon invasi tambahan dari virus yang
sama.
Seperti
halnya obat, tidak ada vaksin yang bebas dari risiko efek samping. Namun
keputusan untuk tidak memberi vaksin juga lebih berisiko untuk terjadinya
penyakit atau lebih jauh menularkan penyakit pada orang lain.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini
adalah:
v Bagaimanakah
sejarah vaksin?
v Apa
yang dimaksud dengan vaksin menurut para ahli?
v Bagaimana
proses pembuatan vaksin?
v Vaksin
apa yang diberikan manusia?
v Apakah
manfaat vaksin?
v Apakah
efek samping vaksin?
C.
Tujuan
Adapun tujuan pembuatan
makalah ini adalah:
v Mengetahui
sejarah vaksin
v Mengetahui
definisi vaksin
v Mengetahui
proses pembuatan vaksin
v Mengetahui
macam-macam vaksin
v Mengetahui
manfaat vaksin
v Mengetahui
efek samping vaksin
BAB
2
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Vaksin
Vaksin menerobos dunia modern pertama kali pada tahun 1796, ketika
Edward Jenner, seorang dokter dari Inggris, meneliti seorang
pekerja harian yang terkena penyakit cacar, dengan diimunisasi dengan
cacar sapi ringan. Dia mengambil beberapa cairan dari luka
penderita cacar sapi dan menggoreskan di permukaan lengan anak berusia 8
tahun. Empat pulah delapan (48) hari kemudian Jenner memberi nama “vaksin”
(bahasa latin dari Sapi).
Terobosan baru lainnya datang pada akhir abad 19, ketika Louis Pasteur
seorang ahli kimia dari Perancis, mengembangkan tehnik kimia untuk mengisolasi
virus dan melemahkannya, yang efeknya dapat dipakai sebagai vaksin.
Sebelum vaksinasi memancing kontroversi. Pasteur pertama kali mencatat,
memasukkan vaksin rabies ke tubuh manusia yang mendapat protes keras oleh
ahli jiwa dan masyarakat.
Upaya untuk menggalakkan imunisasi di Inggris yang menurun
pada abad tersebut merupakan kenyataan pahit akibat dari
penentangan/protes terhadap imunisasi. Meskipun Inggris menghadapi resiko
serius terhadap penyakit Tipus yang mewabah di medan perang Boer (Afrika
Selatan).
Pada perubahan jaman ini, peneliti lainnya telah
mengembangkan vaksin yang tidak aktif untuk melawan Tipus, wabah Rabies dan
Kolera. Pada pertengahan tahun 1920-an, vaksin telah dikembangkan untuk
melawan Dipteri (penyakit yang sering menyebabakan kematian pada
anak-anak) dan Pertusis.
Dua tim ahli dipimpin oleh Jonas Salk and Albert Sabin mengembangkan
vaksin Polio. Vaksin untuk mencegah Polio, digunakan untuk membunuh virus,
dipatenkan pada tahun 1954 dan digunakan untuk kampanye imunisasi. Kurang dari
enam tahun, kasus Polio menurun 90%. Tetapi vaksin Salk tidak melengkapi
imunisasi secara menyeluruh untuk semua jenis virus Polio. Pada tahun 1961,
Sabin telah mengembangkan vaksin oral yang bekerja secara aktif (hidup)
berupa virus yang telah dilemahkan, untuk menggantikan imunisasi dengan
suntik jenis Salk di Amerika Serikat. Pada tahun 1960-an, vaksin
digunakan secara rutin dan tidak menyebabkan kontroversi pada masyarakat
dan paramedis, dan vaksin virus aktif (hidup) telah dikembangkan untuk Campak (1963),
Rubella/ campak Jerman (1966) dan penyakit Gondong (1968).
Bahaya Serangan DPT (Mary H. Cooper, 1995).
Pada awal tahun 1980-an, wabah infeksi yang membunuh ratusan
anak-anak tiap tahun telah mencemaskan orang tua. Sebagian kecil
orang tua merasa anaknya menderita akibat vaksin yang diberikan tidak
aman bagi anak mereka terutama DPT. Di antara mereka adalah anggota
National Vaccine Information Center (NVIC)
Pada tahun 1982. Fisher dan para ibu menemukan
kelompok pembela yang tergabung dalam NVIC dan
meyakinkan konggres untuk menyediakan vaksin DPT yang aman.
Pada tahun 1991, Fisher mendokumentasikan perkembangan vaksin DPT dalam
“A Shot in the Dark” (menyerang dalam kegelapan), dan menerangkan
bagaimana lebih banyak racun pertusis menyebabkan banyak masalah, dan
mengapa diamankan dan tidak dipasarkan secara luas di Amerika Serikat.
Tidak tahu secara pasti mengapa pemerintah Amerika Serikat menarik
vaksin DPT dari pasaran pada tahun 1996 dan merekomendasikan dokter
menutup vaksin jenis DTaP. Hanya 6-7 persen dari vaksin pertusis di
Amerika Serikat masih mengandung DPT. Tetapi itu telah
digunakan secara luas di masyarakat dunia ketiga (negara berkembang).
Pada masa pemerintahan Clinton telah diijinkan untuk memperpanjang
program vaksinasi untuk masyarakat miskin dan merekomendasikan ijin baru
untuk memperbaiki tingkat vaksinasi. Sejak tahun 1994, program vaksinasi telah
dijalankan dalam pemerintahan untuk anak-anak miskin secara Cuma-Cuma.
B.
Pengertian
Vaksin
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika
diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang
digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit yang
disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga dapat mencegah atau
mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau
"liar".
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah
dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa
organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.).
Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu,
terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin
juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Edward Jenner menyadari
bahwa mereka yang telah terinfeksi oleh cacar sapi (cowpox) sebelumnya, maka
tidak akan terkena smallpox (Variola
vera). Pada tahun 1796, Edward Jenner menggunakan sapi yang diinfeksi dengan
cacar sapi (variolae vaccinae) untuk membuat vaksin yang melindungi
masyarakat dari smallpox. Ia menginokulasi seorang anak dengan cowpox dan
kemudian menginfeksinya dengan smallpox. Anak tersebut tetap sehat, karena
telah terkena cowpox sebelumnya. Inokulasi cowpox menyebabkan yang sakit lebih
sedikit daripada inokulasi smallpox.
Sekarang ini telah terdapat berbagai
macam vaksin untuk bermacam-macam penyakit, walaupun demikian vaksin belum ada
untuk beberapa penyakit penting, seperti vaksin untuk malaria, HIV
atau demam berdarah.
C.
Proses
Pembuatan Vaksin
Tahap produksi vaksin
Cara produksi vaksin bukanlah seperti
cara membuat obat racikan, namun proses pembuatannya sangat rumit sehingga
untuk 1 jenis vaksin baru, dibutuhkan pembuatan hingga pengujian selama 10 – 20
tahun. Produksi vaksin memiliki beberapa tahap. Proses pembuatan vaksin
memiliki langkah-langkah berikut:
Menghasilkan antigen dari Kuman
Produksi awal melibatkan pembentukan
antigen dari mikroba. Untuk ini virus atau mikroba tumbuh baik pada sel-sel
dasar seperti telur ayam (misalnya vaksin influenza). Antigen juga bisa
merupakan racun atau toxoid dari organisme (misalnya difteri atau tetanus) atau
mungkin berupa bagian potongan tubuh kuman. Selain itu antigen juga bisa jad
berupa protein atau bagian dari organisme yang dibiakkan dengan media jamur,
bakteri lain atau sel budidaya. Bakteri atau virus dibuat lemah dengan
menggunakan bahan kimia atau panas untuk membuat vaksin (misalnya vaksin
polio).
Isolasi antigen
Isolasi bertujuan untuk
menghilangkan komponen yang tidak diinginkan dari hasil kultur. Pemurnian /
pencucian bertujuan untuk mempertahankan komponen yang diinginkan secara
selektif sesuai dengan spesifikasi tertinggi, sekaligus secara selektif
membuang komponen yang tidak diperlukan. Umumnya purifikasi ini dilakukan
setelah proses fermentasi.
Beberapa metode yang digunakan pada
purifikasiadalah sentrifugasi, kromatografi dan filtrasi. Filtrasi dilakukan
dengan memberikan tekanan tertentu agar larutan yang ingin dimurnikan masuk
melalui membran penyaringan, “dicuci” hingga jutaan kali (seperti pada beberapa
vaksin yang bersinggungan dengan enzim tripsin babi), sehingga pada akhirnya
yang tersisa hanyalah komponen yang diinginkan.
Penambahan Bahan Dasar Vaksin
Setelah antigen dibentuk, vaksin diformulasikan dengan
menambahkan ajuvan, stabilisator dan pengawet :
1.
Adjuvan : berfungsi untuk memperkuat respons imun
2.
Stabilizer : berfungsi untuk menstabilkan vaksin,
misalnya dalam suhu ekstrim
3.
Aditif/ Preservatif / Pengawet : berfungsi sebagai
antimikroba, khususnya pada vaksin kemasan multidosis.
Adalah hal yang sulit untuk membuat
vaksin vaksin kombinasi karena kemungkinan tidak kompatibel dan interaksi
antara antigen dan bahan-bahan lain dari vaksin, oleh karena itu harga vaksin
kombinasi lebih mahal daripada harga vaksin tunggal.
Persyaratan-persyaratan produksi vaksin
Setiap tahap dari produksi vaksin
wajib mengikuti kaidah GMP (Good Manufacturing Practice) dan diawasi ketat oleh
lembaga yang berwenang. WHO (Badan Kesehatan Dunia) telah mengeluarkan
peraturan ini sehingga vaksin yang diproduksi oleh perusahaan manapun di setiap
belahan negar akan memiliki kualitas yang sama. Produk perlu dilindungi dari
udara, air dan kontaminasi manusia. Lingkungan perlu dilindungi dari tumpahan
antigen.
Proses kendali mutu vaksin dilakukan
dengan sangat ketat, konsisten dan berkala. Secara acak dipilih vaksin yang
akan diperiksa kualitasnya. Indikator yang diperiksa adalah sterilitas,
stabilitas kimiawi, keamanan/ toksisitas, virulensi, bahkan hingga pengaruhnya
kepada lingkungan sekitar.
Salah satu
hal penting lainnya adalah pelaksanaan uji lot / batch release. Pada setiap
rangkaian produk vaksin dalam suatu waktu tertentu, dilakukan penandaan berupa
kode tertentu misalnya lot/ batch number untuk memastikan konsistensi
kemurniaan, potensi dan keamanan vaksin yang diproduksi pada waktu berlainan
tetaplah sama dan tidak terjadi penyimpangan.
D.
Vaksin
yang Diberikan Pada Manusia
Di
Indonesia, vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP dan campak
merupakan imunisasi wajib. Sedangkan sisanya merupakan vaksinasi yang
direkomendasikan. Berikut ini adalah jenis-jenis vaksin yang direkomendasikan
oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam program imunisasi, di antaranya:
1.
Hepatitis
B
Hepatitis B
merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan oleh virus
melalui cairan tubuh dan darah. Pemberian vaksin hepatitis B bisa dilakukan
pertama kali pada anak setelah kelahirannya. Selanjutnya vaksin ini bisa
kembali diberikan pada saat anak berusia satu bulan dan pemberian ketiga di
kisaran usia 3-6 bulan.
Efek samping vaksin
hepatitis B yang tergolong umum adalah demam dan rasa lelah pada anak.
Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit menjadi
kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.
2.
Polio
Polio
merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, sesak napas, dan
terkadang kematian. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu
rangkaian, yaitu pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua,
empat, serta enam bulan. Vaksin ini selanjutnya bisa diberikan kembali di usia
satu setengah tahun, dan yang terakhir di usia lima tahun.
Efek
samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu makan,
sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi
berupa gatal, kulit kemerahan, wajah membengkak hingga susah bernapas atau
menelan.
3.
BCG
Vaksin
BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau
yang lebih dikenal sebagai TBC. Penyakit ini merupakan penyakit serius
yang dapat ditularkan melalui hubungan dekat dengan orang yang terinfeksi TB,
seperti hidup di rumah yang sama.
Pemberian
vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat anak baru dilahirkan
hingga berusia dua bulan. Efek samping vaksin BCG yang paling umum adalah
munculnya benjolan bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang sangat
jarang terjadi adalah reaksi alergi.
4.
DTP
Vaksin
DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah
penyakit difteri,
tetanus,
dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan.
Difteri
merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas, radang
paru-paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus
merupakan penyakit kejang dan kaku otot yang sama mematikannya. Dan yang
terakhir adalah batuk rejan atau pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang
dapat mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri, batuk rejan juga dapat
menyebabkan radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian.
Pemberian
vaksin DTP harus dilakukan lima kali, yaitu pada saat anak berusia:
Dua bulan
Empat bulan
Enam bulan
Satu setengah tahun
Lima tahun
Vaksin
DTP tidak dilisensikan untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, remaja, atau
dewasa. Namun vaksin sejenis yang disebut Tdap bisa diberikan pada usia 12
tahun. Efek samping vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam,
dan mual. Efek samping yang jarang terjadi adalah kejang-kejang.
5.
Campak
Campak
adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek,
batuk,
sakit
tenggorokan, radang mata, dan ruam.
Vaksin campak diberikan tiga kali yaitu pada saat anak berusia sembilan bulan,
dua tahun, dan enam tahun.
6.
MMR
Selain
vaksin campak biasa, ada pilihan alternatif yaitu vaksin MMR yang merupakan
vaksin kombinasi. Vaksin ini merupakan gabungan antara vaksin campak, gondong,
dan campak Jerman.
Gondong
merupakan penyakit virus yang menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar
parotis di bawah telinga. Gejala lain dari gondong adalah demam, nyeri sendi,
dan sakit
kepala. Campak Jerman merupakan penyakit virus yang dapat
menyebabkan nyeri sendi, pilek, demam, pembengkakan kelenjar di sekitar kepala
dan leher, serta munculnya ruam berwarna merah pada kulit.
Pemberian
vaksin MMR dilakukan dua kali, yaitu saat anak berusia satu tahun tiga bulan
dan saat anak berusia 15-18 bulan dengan minimal jarak 6 bulan dengan pemberian
vaksin campak. Pemberian kedua diberikan saat anak berusia 6 tahun. Sebagai
patokan, imunisasi campak diberikan dua kali atau MMR dua kali.
Efek
samping vaksin MMR yang paling umum adalah demam dan efek samping yang jarang
terjadi adalah sakit kepala, ruam berwarna ungu pada kulit, muntah, nyeri pada
tangan atau kaki, dan leher kaku.
Banyak
beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah isu autisme akibat
pemberian vaksin MMR. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Hingga kini tidak
ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.
7.
Hib
Vaksin
Hib diberikan untuk mencegah infeksi mematikan yang disebabkan oleh bakteri
haemophilus influenza tipe B. Beberapa kondisi parah yang dapat disebabkan
virus Hib adalah meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang
paru-paru), septic arthritis (radang sendi),
dan pericarditis (radang kantong jantung).
Pemberian
vaksin Hib harus dilakukan empat kali, yaitu saat anak berusia dua bulan, empat
bulan, enam bulan, dan 18 bulan. Efek samping yang mungkin terjadi setelah
vaksin Hib adalah reaksi alergi berupa kemerahan dan gatal.
8.
Pneumokokus
Vaksin
pneumokokus (PCV) diberikan untuk mencegah penyakit pneumonia,
meningitis,
dan septikemia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pneumoniae.
Pemberian
vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua,
empat, dan enam bulan. Selanjutnya pemberian vaksin dapat kembali dilakukan
saat anak berusia 12-15 bulan.
Efek
samping vaksin PCV yang bisa terjadi adalah pembengkakan dan warna kemerahan
pada bagian yang disuntik, serta diikuti dengan demam ringan.
9.
Rotavirus
Vaksin
rotavirus
merupakan jenis vaksin untuk mencegah diare.
Pemberian vaksin ini dilakukan secara berangkai, yaitu pada saat anak berumur
10 minggu dan 6 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Efek samping vaksin
rotavirus yang paling umum diare ringan. Efek pada bayi dapat menyebabkannya
menjadi lebih rewel.
10. Varisela
Vaksin
varisela merupakan vaksin untuk mencegah penyakit cacar air
yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Vaksin ini diberikan pada
anak berusia satu tahun ke atas. Vaksin diberikan dua kali jika anak
berusia di atas 13 tahun dengan jarak waktu 4-8 minggu.
Efek
samping pemberian vaksin varisela yang tergolong umum adalah kemerahan dan
nyeri pada bagian yang disuntik. Dan efek samping yang tergolong lebih jarang
adalah ruam kulit.
11. HPV
Vaksin
HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah
kanker serviks atau kanker pada leher rahim yang
sebagian besar kasusnya disebabkan oleh virus
Human papilloma virus. Vaksin
HPV dapat diberikan sejak anak berumur 10 hingga 26 tahun. Efek samping
pemberian vaksin HPV yang tergolong umum adalah:
Sakit kepala
Nyeri, bengkak, gatal, memar,
dan merah pada bagian kulit yang disuntik
Demam
Nyeri tangan dan kaki
Mual
Sedangkan efek samping
yang jarang terjadi adalah urtikaria atau biduran.
12. Hepatitis A
Vaksin
hepatitis A diperuntukkan mencegah penyakit hepatitis A
yang disebabkan oleh virus. Vaksin ini harus diberikan dua kali mulai usia 2
tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 12 bulan.
Efek
samping vaksin hepatitis A yang umum adalah demam dan rasa lelah, sedangkan
efek samping yang tergolong jarang adalah gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan
hidung tersumbat.
13. Tifus
Vaksin tifus
diberikan untuk mencegah penyakit tifus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Gejala penyakit ini
meliputi demam, diare, dan sakit kepala.Jika tidak segera ditangani, gejala
tersebut bisa memburuk, dan menyebabkan berbagai komplikasi, seperti infeksi
usus dan perforasi (robek) usus.
Pemberian
vaksin tifus bisa dilakukan pada saat anak berusia 2 tahun dengan frekuensi
pengulangan tiap tiga tahun sekali. Efek samping pemberian vaksin tifus yang
mungkin saja terjadi adalah:
Nyeri, bengkak, dan
merah pada bagian yang disuntik
Demam
Sakit kepala
Tidak enak badan
Sakit perut
Diare
Vaksinasi
dewasa
Selain jadwal vaksinasi anak ada
juga jadwal vaksinasi dewasa yang direkomendasikan oleh PAPDI (Persatuan Ahli
Penyakit Dalam Indonesia). Terdapat dua tabel:
Di Jepang
Vaksinasi Dewasa sudah umum dilakukan, di Amerika Serikat umumnya juga
direkomendasikan seperti di Indonesia, di beberapa negara Eropa ada Vaksinasi
Dewasa yang gratis dan ada pula yang menjadi kewajiban dengan sanksi tertentu,
jika tidak melakukannya.
Vaksinasi lansia
Vaksinasi/imunisasi
pada lansia/manula perlu dilakukan, mengingat lansia kekebalan tubuhnya telah
menurun dan hal ini dapat diperparah dengan adanya kurang gizi yang bisa
disebabkan kurangnya asupan gizi atau tingkat penyerapan gizi oleh tubuh yang sudah
menurun.
Menurut
Perserikatan Bangsa Bangsa, pertumbuhan lansia di Indonesia termasuk yang
tertinggi di dunia dan pada tahun 2020 diperkirakan terdapat 25,5 juta lansia.
Pada tahun
2005 telah ada Konsensus Nasional Imunisasi untuk Usia Lanjut bagi mereka yang
berumur mulai dari 60 tahun ke atas, karena jika lansia terkena penyakit
infeksi, maka penyembuhannya akan sulit, apalagi banyak kuman yang sudah
resisten terhadap antibiotik yang umum dan kondisi tubuhnya telah lemah.
Vaksinasi yang dianjurkan
adalah:
Vaksinasi Influenza,
sebaiknya diberikan pada komunitas di panti werdha maupun yang memiliki
penyakit kronis, misalnya diabetes.
Vaksinasi ini perlu diulang tiap tahun
Vaksinasi Pneumonia,
sebaiknya diberikan pada komunitas di panti werdha dan bagi mereka yang pernah
divaksinasi sebelum usia 60 tahun perlu dilakukan vaksinasi ulang/kembali,
demikian juga yang mengalami penurunan kekebalan tubuh karena diabetes, gagal ginjal
kronik, dan penyakit hati
kronik.
E.
Tujuan imunisasi
Tujuan imunisasi adalah
merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga
dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu
menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.
F.
Manfaat
Vaksin
Berikut ini beberapa
manfaat vaksin bagi tubuh, diantaranya adalah:
v Dapat Menyelamatkan Hidup Anak-anak
Dengan adanya kemajuan di bidang ilmu kedokteran,
dapat memberikan dampak yang positif bagi anak-anak kita, dimana mereka dapat
terlindung dari berbagai jenis penyakityang bisa menyerang mereka kapan saja.
Kita tahu bahwa usia kana-kanak merupakan usia yang rentan terhadap serangan
berbagai macam penyakit, karena diusia tersebut mereka belum memiliki sistem
kekebalan tubuh sekuat orang-orang dewasa.
Namun dengan kemajuan ilmu di bidang kedokteran
tersebut, beberapa penyakit yang dapat membuat mereka cidera atau bahkan dapat
mengakibatkan kematian pada usia anak-anak dapat dikurangi prosentasenya, yaitu
dengan jalan memberikan mereka vaksin yang bekerja dengan aman dan efektif di
dalam tubuh. Salah satu contoh kasus yang pernah terjadi adalah wabah
polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian ya bagi penderita di
tiap harinya. Kasus tersebut terjadi hampir diseluruh negara-negara di dunia
ini. Dengan pemberian vaksin polio, laporan tentang akibat penyakit tersebut
menurun dengan drastis.
v Vaksin Sangat Aman dan Juga Efektif
Pemberian vaksin pada anak-anak akan dapat menimbulkan
ketidaknyaman bagi mereka, seperti dengan timbulnya rasa nyeri baik itu di
bagian yang terkena suntikan vaksin maupun anggota tubuh yang lain, serta juga
dapat menimbulkan ruam pada kulit yang terkena suntikan. Namun tentu saja hal
itu hanya berlangsung untuk sementara waktu saja.
Kasus timbulnya alergi pasca pemberian vaksin sangat
jarang terjadi. Hal tersebut tentu saja tak sebanding dengan apabila
mereka merasakan sakit akibat serangan suatu penyakit berbahaya dan mematikan.
Manfaat pencegahan dengan mendapatkan vaksin jauh lebih besar daripada
efek samping yang mungkin dirasakan oleh anak-anak tersebut.
v Vaksin Dapat Membantu Mencegah Penularan Suatu
Penyakit pada Orang Lain.
Beberapa tahun yang lalu banyak sekali kita dengar
mengenai kasus kematian pada bayi dan anak-anak yang diakibatkan oleh
serangan penyakit campak maupun pertusis (batuk rejan). Hal tersebut kebanyakan
terjadi pada bayi maupun anak-anak yang belum sempat mendapatkan vaksin. Hal
tersebut mungkin saja dikarenakan oleh beberapa kondisi seperti terjadinya
alergi yang cukup parah, sistem kekebalan tubuh yang lemah, karena kondisi
kesehatan seperti leukemia, maupun karena adanya alasan lain.
Untuk itu, bagi bayi maupun anak-anak yang berpotensi
untuk mendapatkan vaksin, sebaiknya mereka mendapatkan vaksinasi, yaitu
melalui prosedur imunisasi lengkap. Hal ini tidak hanya melindungi
mereka, tetapi juga dapat membantu mencegah penyebaran penyakit pada mereka
sendiri maupun pada orang lain.
v Dapat Menghemat Waktu dan Biaya
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan pemberian vaksin
dapat membantu anak-anak terhindar dari berbagai macam penyakit yang dapat
menyebabkan cacat yang berkepanjangan, dimana hal tersebut tentu saja akan
merugikan baik dari segi waktu maupun dari segi materi hanya untuk melakukan
tindakan perawatan dan pengobatan yang bisa terjadi dalam kurun waktu yang
panjang.
Dengan memberikan vaksin pencehan penyakit sejak dini
pada anak-anak, merupakan suatu investasi yang menguntungkan bagi kita, dimana
pemborosan terhadap waktu dan materi dapat lebih diminimalkan. Pemberian
vaksin merupakan suatu program pemerintah, dimana hal tersebut bisa didapatkan
dengan gratis tanpa biaya apapun. Selain itu dampak yang bisa dirasakan adalah
anak-anak dapat terhindar dari seangan berbagai penyakit berbahaya nantinya.
v Dapat Melindungi Generasi Berikutnya.
Dengan pemberian vaksin telah terbukti dapat
menurunkan resiko terhadap berbagai jenis penyakit yang dapat berdampak pada
kematian maupun cacat yang berkepanjangan bagi anak-anak generasi masa depan.
Beberapa contoh diantaranya adalah pemberian vaksinasi cacar pada usia
anak-anak dapat membantu menyelamatkan mereka dari serangan cacar di masa
depan.
Contoh lainnya adalah pemberian vaksin campak, dapat
membantu menurunkan resiko penularan virus tersebut dari seorang wanita hamil
kepada janin yang dikandungnya maupun bagi bayi yang baru lahir secara
drastis. Untuk itu sangat penting bagi bayi atau anak-anak untuk dapat segera
mendapatkan vaksinasi secara lengkap dan benar guna pencegahan terserangnya
berbagai jenis penyakit berbahaya di masa depan.
G.
Efek
Samping Vaksin
Umumnya efek samping
imunisasi tergolong ringan, misalnya:
·
Nyeri atau bekas
berwarna kemerahan di bagian yang disuntik
·
Hilang nafsu
makan
·
Untuk efek
samping yang tergolong parah (misalnya kejang dan reaksi alergi), jarang sekali
terjadi.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika
diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang
digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit yang
disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga dapat mencegah atau
mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau
"liar". Macam-macam vaksin antara lain:
a. Vaksin
Hepatitis B
b. Vaksin
Polio
c. Vaksin
BCG
d. Vaksin
DTP
e. Vaksin
Campak
f. Vaksin
MMR
g. Vaksin
Hib
h. Vaksin
Pneumokokus
i.
Vaksin Rotavirus
j.
Varisela
k. Vaksin
HPV
B. Saran
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran.
Apabila ada kekurangan dalam penyelesaian makalah ini kami mohon kritik dan
saran agar makalah ini dapat bermanfaat
DAFTAR
PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar