Membangun Jiwa Kepedulian Sosial di Era Globalisasi Tugas Psikologi Sosial
Nama : Meita Lestari Latifiani
NIM : F100190210
Kelas : Psikologi/D
Membangun Jiwa Kepedulian Sosial di Era Globalisasi
Di era globalisasi saat ini banyak masyarakat yang cenderung memiliki gaya hidup yang individualis. Indonesia yang dulu merupakan bangsa yang ramah dan sopan saat ini berubah menjadi masyarakat yang individualis. Selain itu masyarakat juga kurang memiliki kepedulian sosial. Padahal pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial dan saling membutuhkan, apabila jiwa sosial manusia terkikis maka akan hilang jiwa solidaritas dan kesulitan bersosialisasi. Kehidupan individualis sangat terlihat di kota-kota besar, misalnya: kurangnya komunikasi antar individu ini yang sering terjadi pada masyarakat kota yang jarang berinteraksi dengan tetangga.
Dampak negatif dari masyarakat individualis antara lain: 1) Kehilangan rasa solidaritas, ketika seseorang memiliki sifat individualis yang tinggi maka rasa solidaritas akan berkurang, mereka cenderung memikirkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bersama. 2) Berkurangnya sikap tolong-menolong karena hilangnya kerpedulian sosial. 3) Kesulitan dalam berkomunikasi, hal ini terjadi karena minimnya interaksi seseorang dengan individu lain. Ketika seseorang tidak pernah berinteraksi dengan orang lain maka biasanya orang tersebut akan canggung dan malu untuk berkomunikasi dengan orang lain. 4) Rasa egois yang tinggi, ini terjadi karena masyarakat individualis hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak perduli terhadap lingkungan sekitar.
Untuk mengatasi dampak masyarakat modern yang memiliki sikap individualis tinggi kita perlu membangun rasa kepedulian sosial. Kepedulian sosial adalah perasaan bertanggung jawab atas kesulitan yang dihadapi orang lain dimana seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Membangun rasa kepedulian sosial dimulai dari diri kita sendiri, membangun rasa kepedulian sosial juga harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini, untuk membentuk karakter anak yang peka terhadap lingkungan sosialnya membutuhkan proses melatih dan mendidik. Berikut ini adalah cara membangun rasa kepedulian sosial:
1. Menumbuhkan sikap kepedulian sosial sejak dini
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Kepedulian yang dimaksud bukan mencampuri urusan orang lain tetapi lebih pada membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi orang lain. Menanam rasa kepedulian sosial pada anak dalam benaknya pada usia sekolah sangat efektif dan paling diingat anak, karena pada usia dini anak memiliki kecerdasan dan daya tangkap yang sangat cepat sehingga saat dewasa anak akan mengingatnya dan menjadi seseorang yang peduli dengan lingkungan sosialnya. Mengajari anak untuk peduli dengan lingkungan sosialnya dapat dilakukan dengan cara memberikan pemahaman akan pentingnya kepedulian sosial, tidak hanya memberikan pemahaman orang tua juga harus memberikan contoh karena anak merupakan peniru yang baik, memberikan pujian ketika anak bersikap peduli terhadap lingkungannya, melibatkan anak dalam kegiatan kepedulian sosial. Contoh hal yang dapat dipraktekkan untuk menanamkan jiwa sosial kepada anak antaralain:
a. Mengajak anak menjenguk saudara atau tetangga yang sedang sakit.
b. Memberikan tumpangan pada teman atau tetangga yang tidak berkendara saat melakukan perjalanan yang sejalur dengan kita.
c. Berbagi makanan kepada tetangga sekitar yang kurang mampu.
d. Memberikan sumbangan pada korban bencana alam.
Rasa kepedulian anak juga bisa turun menurut Buchari Alma (2010: 209), faktor turunnya kepedulian sosial adalah karena kemajuan teknologi. Teknologi tersebut diantaranya:
a. Bermain internet
Dunia maya yang sangat transparan dalam mencari suatu informasi malah menjadi sarana yang menyebabkan lunturnya kepedulian sosial. Manusia menjadi lupa waktu karena terlalu asyik menjelajahi dunia maya. Tanpa disadari mereka lupa dan tidak menghiraukan lingkungan sekitar, sehingga rasa peduli dengan lingkungan sekitar kalah oleh sifat individualisme yang terbentuk dari kegiatan tersebut.
b. Sarana hiburan (Game)
Seiring dengan kemajuan teknologi maka dunia hiburan akan turut berkembang. Karakter anak-anak yang suka bermain akan menjadikan anak sebagai korban dalam perkembangan sarana hiburan. Anak yang terlalu lama bermain game akan memengaruhi kepedulian terhadap sesama. Mereka tidak berhubungan langsung dengan sesamanya. Hal ini mengharuskan orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya.
c. Tayangan TV
Televisi merupakan salah satu sarana untuk mencari hiburan dan memperoleh informasi yang up to date, namun sekarang ini banyak tayangan televisi yang tidak mendidik anak-anak. Diantaranya adalah acara gosip dan sinetron. Secara tidak langsung penonton diajari berbohong, memfitnah orang lain, menghardik orang tua, dan tayangan yang jauh dari realita kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya.
d. Masuknya budaya barat
Pengaruh budaya barat yang bersifat immaterial dan cenderung bersebrangan dengan budaya timur akan mengakibatkan norma-norma dan tata nilai kepedulian yang semakin berkurang. Masyarakat yang kehilangan rasa kepedulian akan menjaditidak peka terhadap lingkungan sosialnya, dan akhirnya dapat menghasilkan sistem sosial yang apatis.
2. Gotong Royong
Gotong royong merupakan salah satu identitas masyarakat indonesia. Gotong royong adalah kegiatan sosial yang dilakukan tanpa pamrih untuk mewujudkan suatu tujuan bersama. Dengan gotong royong dapat menumbuhkan semangat kerja sama, menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama akan tetapi budaya gotong royong saat ini telah luntur karena modernisasi. Arus modernisasi membentuk masyarakat yang individualis dan sikap acuh terhadap lingkungan sekitar dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Semangat gotong royong dapat dihidupkan kembali oleh anak muda dengan membentuk komunitas, paguyuban, perkumpulan berbentuk klub seperti klub sepak bola. Dengan berorganisasi dapat bermanfaat untuk keterampilan berupa softskill.
3. Menjadi relawan
Relawan adalah seseorang memiliki hati nurani tinggi, dan secara sukarela memberikan bantuan atau pertolongan orang lain. Bantuan tersebut bisa diberikan ketika terjadi bencana maupun kepada seseorang yang benar-benar membutuhkan bantuan. Tugas-tugas relawan antara lain membantu menyalurkan sandang dan pangan, ikut serta membantu membangun infrastruktur yang rusak, memmberikan pelayanan seperti psikologi, pendidikan dan kesehatan. Dengan menjadi relawann tentu saja akan menumbuhkan dan meningkatkan jiwa sosial.
4. Saling tolong menolong
Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya manusia perlu mengadakan kerjasama dengan pihak lain. Kerjasama dengan orang ain dapat terbina dengan baik apabila masing-masing pihak memiliki kepedulian sosial. Kepedulian sosial dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan tolong menolong. Sikap tolong menolong sudah diajarkan dalam semua agama. Misalnya dalam agama islam QS. Al-Ma’idah ayat 2.
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”
5. Mengurangi penggunaan gawai
Dengan mengurangi penggunaan gawai maka pandangan seseorang yang awalnya pada pada dunia maya, game akan teralihkan, orang tersebut akan melihat lingkungan sekitarnya sehingga akan terjalin interaksi dengan orang disekitarnya. Ketika seseorang telah berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya maka jiwa sosialnya akan timbul.
Referensi:
1. Qs. Al-Maidah ayat 2
2. A. Tabiin.(2013).MENUMBUHKAN SIKAP PEDULI PADA ANAK MELALUI INTERAKSI KEGIATAN SOSIAL. Jurnal of Social Science Teaching, 39-59.
Komentar
Posting Komentar