AJARAN TAOISME PSIKOLOGI KEPRIBADIAN TIMUR

(KEPRIBADIAN TIMUR)

Meita Lestari Latifiani

 

AJARAN TAOISME

 

A. Sejarah Taoisme

Taoisme berkaitan dengan keadaan kerajaan Chou (abad ke 6 SM) yang mengalami masa kehancuran, akibat penyelewengan dalam pemerintahan. Kehidupan manusia semakin menderita, membuat orang-orang terpelajar  kecewa.  Kemudian  dari sebagian mereka hidup menyendiri dan hidup sebagai biarawan, lalu mendirikan suatu aliran filsafat yang dikenal dengan nama Taoisme atau Tao Te Chia. Tokoh pertama atau Peletak dasar ajaran Taoisme adalah Yang  Chu,  kemudian dipopulerkan oleh Lao Tzu. Menurut tradisi kepustakaan Cina, Lao Tzu disebutkan sebagai pendiri Taoisme. Kemudian yang meneruskan ajaran Taoisme adalah Chuang Tzu murid pertama dari Lao Tse.Menurut kepustakaan Cina mengenai nama Taoisme sebagai filsafat dan Taoisme sebagai agama, masing-masing memiliki ajaran yang berbeda. Taoisme sebagai filsafat atau Tao Chia mengajarkan agar manusia hidup mengikuti hukum alam, sedangkan Taoisme sebagai  agama  atau  Tao  Mao  mengajarkan agar manusia tidak menentang hukum alam. Kemudian dalam perkembangan keduanya tidak berbenturan, karena praktek dan pemaknaan agama dan filsafat di China tidak memiliki garis atau sekat yang jelas dalam kehidupan sehari-hari.

B. Tokoh Taoisme

Peletak dasar ajaran Taoisme adalah Yang Chu (440-260). Ajarannya bersifat eudaemonistik, artinya bahwa manusia harus mencari kebahagiaan tertinggi bagi dirinya, itulah yang dinamakan kebahagiaan. Ajaran ini kemudian dikembangkan oleh Lao Tzu (abad VI SM), dan menurut kepustakaan Cina dikenal sebagai pendiri Taoisme atau Tao Te Chia. Ajaran Lao Tzu ini ditulis dalam sebuah buku yang berjudul Lao Tzu dan buku itu akhirnya dikenal dengan nama Tao Te Ching. Buku tersebut memuat sajak-sajak pendek tentang etika, psikologi dan metafisika. Kemudian hari buku Lao Tzu ini dijadikan buku suci oleh para penganut Taosime, karena memuat aturan-aturan tata kerja Taoisme.

C. Ajaran Taoisme

1. Konsep Kebajikan Menurut Taoisme

Menurut Lao Tzu, kebjikan (te) diartikan sebagai karakter atau kekuatan moral yang mengandung tiga unsur, yaitu sebagai berikut.

a. Suatu kata yang berarti selalu mengusahakan (to go), kecenderungan memberi bantuan kepada orang lain. Kecenderungan semacam ini muncul dalam diri seseorang (internal) dan bukan karena faktor dari luar (external), misalnya pamrih. Di samping itu juga dilakukan secara terus menerus sebagai kebiasaan dalam hidup.

b. Mengandung arti jujur (straight), yaitu kecenderungan sikap dan perilaku yang berbasis pada kesucian hati yang murni (original purity)

c. Bermakna kasih saying (heart). Dalam kebajikan arti hidup adalah untuk sesamanya, tanpa membeda-bedakan (Blakney, 1959:38).  

Kebajikan berarti pula jalan Tao untuk menuju kebahagiaan sempurna (perfect happiness), yaitu kebahagiaan lahir dan batin. Orang yang mencapai kebahagiaan sempurna yaitu seseorang yang telah mencapai tingkatan sebagai manusia agung (sheng jen). Manusia agung adalah manusia yang hidup untuk sesama dan lingkungannya. Kebahagiaan sempurna hanya dapat dicapai jika seseorang dalam hidupnya telah memiliki fungsi bagi sesama dan lingkungannya (harmonious co-existence).

 

2. Etika Natural Taoisme

Etika natural Taoisme dapat dimungkinkan penerapannya melalui ajarannya tentang kebajikan. Hukum kebajikan Taoisme secara substansial memiliki nilai-nilai universal, sehingga dapat memberikan sumbangan bagi praktek kehidupan masyarakat dewasa ini.

Nilai universal kebajikan menampakkan adanya ketulusan hati yang murni dari diri seseorang dan rasa adil kepada sesamanya. Kebajikan akan memiliki arti yang kongkrit bagi kehidupan manusia apabila kebajikan dilaksanakan dalam masyarakat modern yang sedang mengalami proses perubahan sosial dan perubahan struktur politik. Sebab, ketulusan hati dan rasa keadilan keduanya dapat menjadi landasan moralitas bagi pertumbuhan peradaban demokratisasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

 Konsep pemikiran tersebut bisa dijadikan orientasi dalam merefleksikan proses pembentukan sosial (social formation) di Indonesia. Tema-tema penting yang sedang menggulir di permukaan masyarakat Indonesia dewasa ini adalah masalah pluralitas, demokrasi, budaya politik dan supremasi yang masih tertinggal akibat krisis multidimensi yang berkepanjangan. Arah bergulirnya proses pembentukan sosial dan perubahan struktur politik ingin mengembalikan status kemandirian, pluralitas dan kapasitas politik setiap warga negara. Dalam sejarah perkembangan masyarakat barat masalah tersebut merupakan tuntutan eksistensial yang harus diwujudkan melalui pembentukan masyarakat demokratis atau civil society.

Permasalahannya, pembangunan bangsa Indonesia ke depan harus menjaga negara kesatuan dan menjunjung asas demokrasi Pancasila. Perkembangan masyarakat demokratis (misal: civil society) yang mengedepankan kemandirian, pluralitas, dan kapasitas politik, tidak lepas kendali dari substansi nilai etika demokrasi, sehingga pemberdayaan masyarakat secara efektif mampu membangun sistem demokrasi politik yang kondusif bagi pengembangan nilainilai kemanusiaan dan keadilan.

Taoisme sebagai aliran filsafat besar di Cina telah dikenal banyak memberikan sumbangan pemikiran berupa ajaran tentang etika natural. Meskipun pada sisi tertentu ajaran etika Taoisme ini tidak terlepas dari segi kekurangan sehingga tidak semua ajarannya relevan. Namun dalam segi positifnya etika Taopisme yang antara lain mengedepankan prinsiop peace and harmony bagi kehidupan masyarakat dan politik masih relevan sebagai landasan orientasi normatif bagi pengembangan masyarakat demokratis.

 Dari kajian singkat mengenai etika natural Taoisme ditemukan hal-hal penting yang dapat memberi kontribusi pemecahan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia dewasa ini. Hal-hal penting dari ajaran kebajikan Taoisme meliputi: prinsip kehidupan harmoni, kesucian hati yang murni, hidup sewajarnya, dan azas keadilan.

Kemungkinan bentuk penerapan etika natural Taoisme yaitu sebagai tawaran solusi sumber orientasi pemecahan ragam persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia terkini dalam membangun masyarakat demokratis. Bentuk penerapannya menggambarkan pola kehidupan sosial masyarakat baru, dan secara garis besarnya adalah sebagi berikut.

a. Harmoni dalam pluralitas kehidupan

b. Kesucian hati dalam kehidupan demokratis

 

Daftar Pustaka

1. Pitoyo,Djoko.2006.Manusia Bijaksana menurut Taoisme.Jurnal Filsafat, 16(1), 262-267

2. Lasiyo, Seri Filsafat Cina, Taoisme, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta,1994, hlm. 3-4

3. Wiratmadja, Sekilas Filsafat China, Liberty, Yogyakarta, 1978, hlm. 17

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIOGRAFI B.F SKINNER TOKOH PSIKOLOGI BEHAVIORISME

Apa Itu Pola Asuh? Yuk Mengenal 3 Jenis Pola Asuh

Membangun Jiwa Kepedulian Sosial di Era Globalisasi Tugas Psikologi Sosial